Penambang Bitcoin Rahasia Beralih ke Bisnis Ini, Keuntungannya Lebih Besar

by -52 Views

Dalam lima tahun terakhir, penambang Bitcoin Core Scientific diam-diam telah melakukan diversifikasi ke teknologi kecerdasan buatan (AI). Peralihan tersebut menjadi tren baru di kalangan penambang Bitcoin untuk mendorong efisiensi bisnis di masa depan.

Pada awal pekan ini, Core Scientific mengumumkan kesepakatan selama 12 tahun dengan penyedia cloud CoreWeave untuk menyediakan infrastruktur untuk machine learning. Core Scientific mengatakan kesepakatan tersebut akan menambah pendapatan lebih dari $3,5 miliar (Rp57 triliun) selama masa kontrak.

CoreWeave yang didukung oleh Nvidia menyewakan unit pemrosesan grafis (GPU) untuk pelatihan dan operasional model AI. Selain itu, Core Scientific akan menyalurkan sekitar 200 megawatt infrastruktur untuk operasional CoreWeave.

Core Scientific, yang bangkit dari kebangkrutan pada bulan Januari lalu, telah menambang berbagai aset digital sejak tahun 2017. Perusahaan mulai melakukan diversifikasi ke layanan lain pada tahun 2019.

“Cara terbaik untuk mengembangkan fasilitas penambangan Bitcoin pada dasarnya memanfaatkan keunggulan kami di sektor pusat data,” kata CEO Core Scientific Adam Sullivan kepada CNBC International, dikutip Selasa (4/6/2024).

Sullivan mengambil peran sebagai CEO ketika perusahaan tersebut masih berada di ambang kebangkrutan, yang diakibatkan oleh anjloknya nilai Bitcoin pada 2022 lalu. Sejak itu, mantan bankir investasi tersebut telah melunasi utang perusahaan sembari meningkatkan kinerja perusahaan di sektor non-Bitcoin.

Meskipun kinerja Core Scientific sudah naik lebih dari 40% sejak dicatatkan kembali awal tahun ini, kapitalisasi pasarnya masih bernilai $865 juta (Rp14 triliun) atau jauh lebih rendah dibandingkan penilaiannya sebesar $4,3 miliar (Rp70 triliun) pada Juli 2021.

Permintaan komputasi dan infrastruktur AI melonjak setelah OpenAI meluncurkan ChatGPT pada November 2022, sehingga memicu lonjakan investasi pada model AI dan startup.

Sementara itu, Core Scientific dan penambang lainnya seperti Bit Digital, Hive, Hut 8, dan TeraWulf berupaya meningkatkan aliran pendapatan mereka setelah Bitcoin halving pada April lalu memotong imbalan yang dibayarkan kepada penambang Bitcoin sebesar 50%.

Banyak yang telah mengalihkan fasilitas besar mereka untuk memenuhi kebutuhan pasar.

“Penambang Bitcoin yang memanfaatkan pusat data hemat energi dan intensif energi, menganggap fasilitas mereka juga ideal untuk operasi AI,” kata James Butterfill, kepala penelitian di perusahaan aset digital CoinShares.

Butterfill mengatakan tumpang tindih ini menyebabkan persaingan antara penambang Bitcoin dengan perusahaan AI. Operasi AI memang memerlukan belanja modal hingga 20 kali lipat dibandingkan penambangan Bitcoin, tetapi teknologi masa depan itu lebih menguntungkan untuk jangka panjang menurut laporan dari CoinShares.

“Aktivitas AI menyebabkan peningkatan depresiasi dan amortisasi, yang dapat meningkatkan margin laba kotor,” kata Butterfill.

Menurut CoinShares, Bit Digital memperoleh 27% pendapatannya dari AI. Hut 8 menghasilkan 6% penjualan dari AI, dan Hive, yang memiliki pusat data di Kanada dan Swedia, memperoleh 4% pendapatannya dari layanan ini.

Hut 8 mengatakan dalam laporan pendapatan kuartal pertamanya bahwa mereka telah membeli 1.000 GPU Nvidia batch pertama. Mereka juga sudah mengantongi kesepakatan dengan pelanggan untuk platform cloud AI.

“Kami menyelesaikan perjanjian komersial untuk vertikal AI baru kami di bawah model GPU-as-a-service, termasuk perjanjian pelanggan yang menyediakan pembayaran infrastruktur tetap ditambah pembagian pendapatan,” kata CEO Hut 8 Asher Genoot.

Genoot menambahkan bahwa perusahaan beresktasi untuk mulai menghasilkan pendapatan pada semester kedua tahun ini dengan kisaran tahunan sekitar $20 juta (Rp325 miliar).

Bit Digital memiliki 251 server yang secara aktif menghasilkan pendapatan dari kontrak AI pertamanya pada akhir April. Perusahaan mengatakan pihaknya memperoleh pendapatan sekitar $4,1 juta (Rp66 miliar) dari operasi bulan itu.

Iris Energy memperkirakan dapat menghasilkan pendapatan tahunan antara $14-17 juta (Rp227-276 miliar) dari layanan cloud AI-nya. Perjanjian Core Scientific yang diperluas dengan CoreWeave diharapkan menghasilkan pendapatan tahunan sebesar $290 juta (Rp4,7 triliun).

“Meskipun kami berniat untuk tetap menjadi salah satu penambang Bitcoin terbesar dan maling produktif, kami berharap memiliki model bisnis yang terdiversifikasi dan arus kas yang lebih dapat diprediksi,” kata Sullivan.

Volatilitas Bitcoin menjadikan penambangan sebagai bisnis yang menantang. Meskipun Bitcoin saat ini naik lebih dari 150% menjadi sekitar $69.000, pasar bearish pada tahun 2022 membuat banyak penambang bangkrut atau memaksa mereka untuk tutup sama sekali.

Tantangan Penambang Bitcoin Berpindah ke Bisnis AI

Berpindah ke AI tidak semudah menggunakan kembali infrastruktur dan mesin yang ada, karena persyaratan pusat data komputasi kinerja tinggi (HPC) berbeda-beda, begitu pula kebutuhan jaringan data.

“Selain trafo, gardu induk, dan beberapa switch gear, hampir semua infrastruktur yang dimiliki penambang saat ini perlu dibuldoser dan dibangun dari awal untuk mengakomodasi HPC,” tulis analis Needham dalam sebuah laporan pada tanggal 30 Mei lalu.

Rig yang digunakan untuk menambang Bitcoin disebut Sirkuit Terpadu Khusus Aplikasi (ASICs). Mereka dibuat khusus untuk penambangan kripto dan tidak dapat digunakan untuk melakukan hal lain.

Needham memperkirakan bahwa pusat data HPC beroperasi dengan belanja modal $8-10 juta (Rp129-162 miliar) per megawatt, tidak termasuk GPU. Padahal situs penambangan Bitcoin biasanya beroperasi dengan belanja modal $300.000-800.000 (Rp5-13 miliar) per megawatt, tidak termasuk ASIC.

Sullivan dari Core mengatakan perlu banyak sinergi antara kedua bisnis tersebut.

“Salah satu bagian paling menarik dari bisnis penambangan Bitcoin adalah kami memiliki akses ke listrik dalam jumlah besar di seluruh Amerika Serikat (AS) dengan akses ke jalur serat optik,” katanya.

Selain kemitraannya dengan CoreWeave, Core Scientific juga mengumumkan bahwa selama tiga hingga empat tahun ke depan, mereka berupaya mengubah 500 megawatt infrastruktur penambangan Bitcoin di seluruh negeri menjadi pusat data HPC.

Sullivan mengatakan retrofit ini dapat dikelola karena perusahaan memiliki dan mengendalikan seluruh infrastruktur pusat datanya.

“Ada komponen yang harus kami beli untuk HPC, tapi itu adalah komponen yang bisa kami peroleh dengan mudah,” katanya.

Dalam satu hingga dua tahun ke depan, analis Needham memperkirakan bahwa penambang Bitcoin besar yang diperdagangkan secara publik diperkirakan akan memiliki kapasitas listrik lebih dari dua kali lipat, termasuk rencana ekspansi bisnis penambangan dan HPC mereka.

Energi bersih menjadi pilihan populer karena merupakan sumber listrik termurah di banyak negara. Para penambang dalam skala besar bersaing dalam industri dengan margin rendah, yang biaya variabelnya biasanya hanya energi.

Sehingga mereka diberi insentif untuk bermigrasi ke sumber listrik termurah di dunia. Sebuah laporan industri memperkirakan jaringan Bitcoin 54,5% ditenagai oleh listrik berkelanjutan.

Electric Power Research Institute memperkirakan bahwa pusat data dapat menghabiskan hingga 9% dari total konsumsi listrik negara tersebut pada tahun 2030, naik dari sekitar 4% pada tahun 2023. Memanfaatkan energi nuklir dipandang oleh banyak orang sebagai jawaban untuk memenuhi permintaan tersebut.

TeraWulf memberi energi pada lokasi penambangannya dengan energi nuklir, dan ingin terjun ke machine learning. Sejauh ini, perusahaan tersebut memiliki dua megawatt yang didedikasikan untuk kapasitas HPC, meskipun perusahaan tersebut memiliki rencana untuk mentransisikan infrastruktur energinya ke arah AI dan HPC.

CEO OpenAI Sam Altman mengatakan kepada CNBC International tahun lalu bahwa dia sangat percaya pada nuklir dalam hal memenuhi kebutuhan beban kerja AI.

“Saya tidak melihat cara bagi kita untuk mencapai tujuan tersebut tanpa nuklir,” kata Altman.

“Maksud saya, mungkin kita bisa mencapainya hanya dengan tenaga surya dan penyimpanan. Namun dari sudut pandang saya, saya merasa ini adalah cara yang paling mungkin dan terbaik untuk mencapainya,” ia menuturkan.