Huawei Bangkit dari Blokir Joe Biden, China Mendorong Kembali!

by -61 Views

Huawei Kian “Menggila”, Kebijakan Trump Beri Tumbal Bagi AS

Jakarta, CNBC Indonesia – Sejak 2019 lalu, Huawei menjadi bulan-bulanan pemerintah Amerika Serikat (AS). Namun, pada akhirnya keputusan mantan Presiden Donald Trump untuk membuat Huawei kekurangan pasokan komponen penting malah mempercepat pengembangan industri semikonduktor China.

Pembatasan yang dilakukan AS malah membuat perusahaan bangkit dan bersatu membangun kekuatan dengan menciptakan chip hingga smartphone produksi lokal. Bukan hanya itu, pemerintah China juga membantu mengalokasikan anggaran miliaran dolar AS untuk meningkatkan industri chip dalam negeri, sehingga mempermudah Huawei membangun jaringan chip secara mandiri.

Serangan pertama Trump terhadap Huawei terjadi pada deklarasi darurat nasional Mei 2019, yang membuat Kementerian Perdagangan (Kemendag) menambahkan perusahaan tersebut ke daftar hitam. Alasannya, Huawei dicurigai membahayakan keamanan nasional karena dinilai memiliki hubungan dekat dengan pemerintahan China.

Berkat kebijakan tersebut, Google tidak dapat lagi memberikan dukungan Android kepada Huawei, sehingga pada saat itu seri Mate 30 dan model yang lebih baru tidak dapat mengakses aplikasi Google.

Mereka akhirnya mengadopsi pengganti Android Huawei, HarmonyOS, dua tahun kemudian.

Perang teknologi kembali memanas dengan cepat pada bulan Mei 2020, ketika AS makin kencang membatasi akses Huawei terhadap peralatan dan perangkat lunak AS. Perusahaan Manufaktur Semikonduktor Taiwan (TSMC), harus berhenti memproduksi chip HiSilicon untuk Huawei yang saat itu merupakan pelanggan terbesar kedua setelah Apple.

Begitu pula dengan Samsung dan SK Hynix yang harus berhenti menjual chip ke merek China tersebut hingga batas waktu 15 September 2020.

Untuk prosesor, Huawei tak punya pilihan selain mengandalkan produsen chip lokal yakni Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC) dan Shanghai IC R&D Center. Namun hal ini membuat penurunan spesifikasi yang signifikan. SMIC baru saja mulai memproduksi secara massal chip 14nm untuk Huawei, sedangkan TSMC mencapai 5nm pada akhir tahun itu dan memasok prosesor Kirin 9000 untuk Huawei Mate 40.

“Ini akan menjadi chip Kirin “kelas atas” yang terakhir,” kata bos ponsel Huawei Richard Yu saat itu.

Qualcomm akhirnya diizinkan untuk memasok chip 4G ke Huawei pada November 2020. Merek yang dulunya terkenal di China harus rela penjualannya turun dengan pangsa pasar hanya 16% secara lokal pada bulan Januari 2021, dan kemudian turun lagi menjadi 6% pada Q2 2022, sebagaimana dicatat oleh Counterpoint.

Begitu juga dengan pangsa pasar global Huawei yang telah diabaikan sejak tahun 2021. Namun, menurut Counterpoint dan Statista, sejak Huawei menjual merek Honor pada November 2020, produk spin-off tersebut mampu mengamankan posisi triwulanan teratas di China.

Investasi chip China akhirnya terbayar ketika SMIC membuat terobosan 7nm pada Agustus 2022, sebuah langkah cepat selama dua tahun dari yang tadinya hanya 14nm.

Bahkan, langkah tersebut lebih cepat dari yang pernah dilakukan TSMC atau Samsung. Terlebih lagi, pencapaian ini tampaknya berhasil diraih tanpa menggunakan peralatan litografi tercanggih, yang sebagian besar hanya dimiliki oleh ASML dan Nikon.

Seperti yang kemudian diketahui oleh Bloomberg, kebangkitan ini mungkin merupakan hasil dari dana investasi pemerintah kota Shenzhen pada tahun 2019 yang membantu Huawei membangun jaringan chip mandiri.

Melalui jaringan perusahaan, Huawei secara diam-diam mendapatkan akses ke teknologi litografi sambil bertukar tenaga ahli untuk bekerja di wilayah masing-masing, tanpa perlu berada di bawah kekuasaan siapapun.

Huawei bahkan berhasil mempekerjakan beberapa mantan karyawan ASML, yang kemungkinan menjadi juru kunci mencapai proses node 7nm untuk prosesor terbarunya, HiSilicon Kirin 9000S berkemampuan 5G yang dibuat oleh SMIC.

Tolok ukur menunjukkan bahwa kinerja chip ini setara dengan Qualcomm Snapdragon 888 pada akhir tahun 2020, sehingga menunjukkan bahwa chip ini tertinggal sekitar dua generasi dari pesaing utamanya.

Huawei kemudian mengambil pendekatan yang agak tidak biasa dengan meluncurkan smartphone Kirin 9000S pada awal September tahun ini. Tanpa acara peluncuran atau teaser apa pun, perusahaan hanya mengumumkan di Weibo bahwa Mate 60 dan Mate 60 Pro akan segera tersedia.

Aksi mengejutkan ini bertepatan dengan kunjungan Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo ke China, yang membuat banyak orang percaya bahwa Huawei menerima perintah khusus dari otoritas tertentu untuk segera meluncurkan perangkat 5G tersebut lebih cepat dari jadwal.

Hal ini segera diikuti oleh pengumuman mengenai dukungan dana sebesar US$40 miliar untuk lebih meningkatkan industri chip-nya, serta peluncuran dua ponsel lainnya, Mate 60 Pro+ dan Mate X5 yang dapat dilipat seminggu kemudian.