Valuasi ChatGTP Cipta Rp 1.339 T, Namun Pendapatannya Masih Kecil

by -69 Views

OpenAI melaporkan pendapatan US$ 44.485 (Rp 692 juta) pada 2022 padahal investor memberikan perusahaan pencipta ChatGPT tersebut valuasi hingga US$ 86 miliar (Rp 1.339 triliun).

Angka pendapatan Rp 692 juta dilaporkan oleh induk perusahaan OpenAI yang berstatus perusahaan nirlaba kepada otoritas pajak Amerika Serikat (IRS), yang dikutip oleh CNBC International. Perusahaan nirlaba harus menyetorkan surat 990 kepada IRS setiap tahun. Jika tidak, status nirlaba mereka akan dicabut. Namun, perusahaan tidak wajib memberikan laporan keuangan yang sudah diaudit.

OpenAI juga terhindar dari kewajiban pelaporan laporan keuangan yang sudah diaudit selama pendapatannya di bawah US$ 2 juta (Rp 31 miliar), sesuai regulasi yang berlaku di California. Terakhir kali OpenAI melampaui batas tersebut adalah 2017. Ketika itu, OpenAI melaporkan pendapatan US$ 33,2 juta (Rp 507 miliar) atau 700 kali lipat dari pendapatan yang dilaporkan pada 2022.

Menurut CNBC International, angka keuangan OpenAI sangat misterius meskipun perusahaan tersebut kerap mengumbar komitmen transparansi.

OpenAI berdiri sebagai perusahaan nirlaba pada 2015 kemudian mendirikan perusahaan “laba terbatas” pada 2019. Lewat pendirian entitas baru ini, OpenAI menggalang miliaran dolar AS dari investor. Perusahaan pengejar laba ini lalu sukses mengembangkan ChatGPT yang membuat heboh dunia.

Dalam laporan lain, The Information, melaporkan bahwa pendapatan OpenAI pada 2022 mencapai US$ 28 juta (Rp 436 miliar) dan berpotensi melampaui US$ 1 miliar (Rp 15,57 triliun) pada 2023.

Thad Calabrese, ahli tata kelola nirlaba di New York University, menyatakan status OpenAI membingungkan. Menurutnya, OpenAI sebaiknya melepas status nirlaba mereka.

“Tak perlu memiliki perusahaan nirlaba. Jika ingin menjadi startup, jadi startup saja,” katanya kepada CNBC International.

Entitas teknologi ternama yang berstatus nirlaba adalah The Mozilla Foundation sebagai induk usaha Mozilla Corporation, yaitu pencipta browser Firefox.

Berbeda dengan OpenAI, Mozilla tidak pernah menggalang dana dari investor. Mozilla juga menanamkan kembali pendapatannya sebagai modal untuk pengembangan produk.

Setiap tahun, Mozilla Foundation melaporkan laporan keuangan yang sudah diaudit di website-nya beserta laporan tahunan yang lebih detail.

Presiden Mozilla Foundation Mark Surman menyarankan OpenAI memastikan arah perusahaan.

“Saya tidak tahu pada titik ini, apakah ini permasalahan regulasi. Saya pikir ini masalah kepercayaan publik. Jika mereka ingin tampak sebagai institusi publik yang berkomitmen agar AI tetap melayani kepentingan umat manusia, harus ada transparansi lebih besar. Kita harus tahu apa yang terjadi,” kata Surman.

Valuasi US$ 86 miliar (Rp 1.339 triliun) OpenAI terungkap lewat rencana penjualan saham milik pegawainya. OpenAI juga telah menggalang miliaran dolar AS dari banyak investor, terutama Microsoft.