Bill Gates’ Story: Willingly Swollen from Being Bitten by Wolbachia Mosquitoes in Indonesia

by -61 Views

Nyamuk hasil rekayasa ‘Wolbachia’ menjadi topik hangat beberapa waktu terakhir. Pasalnya, nyamuk tersebut menjadi solusi terbaru untuk mencegah penyebaran demam berdarah dengue (DBD).

Dalam keterangan resmi di laman Sehat Negeriku, dijelaskan bahwa nyamuk Wolbachia sudah dilepas di lima kota di Indonesia. Masing-masing adalah Semarang, Jakarta Barat, Bandung, Kupang, dan Bontang.

Nyamuk hasil uji coba lab tersebut mampu melumpuhkan virus dengue yang terkandung di dalam nyamuk aedes aegypti. Diharapkan, penyebaran nyamuk Wolbachia akan menyetop penyebaran virus sehingga tak menular ke tubuh manusia.

Bill Gates melalui Bill & Melinda Gates Foundation merupakan salah satu sponsor untuk penelitian nyamuk Wolbachia ini. Di Indonesia, pengujian nyamuk ini pertama kali dilakukan di Yogyakarta.

“Uji coba acak yang terkontrol di Yogyakarta Indonesia mendapatkan fakta bahwa nyamuk pembawa Wolbachia mengurangi kasus DBD di kota itu sebanyak 77 persen dan pasien rawat inap DBD sebanyak 86 persen,” kata Gates dalam blog personalnya.

Gates bercerita soal kunjungannya ke Indonesia dalam sebuah artikel yang ia publikasikan ke blog personalnya pada 2014 silam. Ia mengatakan para peneliti di Universitas Gadjah Mada (UGM) memintanya untuk berpartisipasi dalam sebuah proyek yang bertujuan mengontrol penyebaran DBD.

“Peneliti di UGM adalah bagian dari proyek global untuk mengeksplor kemungkinan bakteri yang disebut Wolbachia. Wolbachia bisa digunakan untuk mengontrol DBD. Bakteri itu secara natural di sekitar 70% serangga dan tak berbahaya bagi manusia,” ia menjelaskan.

Lebih lanjut, ia mengatakan bakteri itu mampu memblokir transmisi DBD dari nyamuk. Sayangnya, nyamuk tak membawa bakteri Wolbachia secara natural.

“Untungnya, grup peneliti mampu menginfeksi bakteri Wolbachia ke tubuh nyamuk. Kini, berkat kerja sama dengan peneliti di seluruh dunia, mereka mengembangkan koloni nyamuk untuk menyetop DBD,” ia menjelaskan.

Gates juga menggarisbawahi proyek pengembangan nyamuk Wolbachia di Indonesia didanai oleh Tahija Foundation. Ia mengatakan para peneliti pertama kali melepas nyamuk Wolbachia di Australia pada 2011 silam.

Lalu, dengan dukungan pemerintah dan komunitas lokal, tim di Indonesia mulai merilis nyamuk Wolbachia di sekitar Yogyakarta.

“Dalam kunjungan saya ke Yogyakarta, saya memiliki kesempatan untuk merilis banyak nyamuk Wolbachia,” ia menceritakan.

Ia juga sempat mengobrol dengan penduduk lokal. Beberapa orang mengatakan tentang bagaimana DBD merenggut nyawa anggota keluarga mereka. Dengan kehadiran nyamuk Wolbachia, warga lega karena virus mematikan itu bisa diatasi.

“Saya kagum dengan tim peneliti di Indonesia. Setiap pekan, mereka merelakan tangan mereka digigit nyamuk betina Wolbachia yang membutuhkan darah manusia untuk dapat bertelur. Tak ada risiko setelah digigit nyamuk ini, tetapi efek sakit gigitannya tetap sama,” kata dia.

Lalu, Gates pun memamerkan pengalamannya yang rela digigit nyamuk Wolbachia.

“Saya setuju untuk membiarkan nyamuk Wolbachia mencicipi darah saya. Hanya dalam beberapa menit, lengan saya bengkak karena belasan gigitan. Rasanya tak seberapa dengan dampak yang dihasilkan oleh proyek luar biasa ini untuk melawan penyakit mematikan,” ia memungkasi.